Jahe Emprit



 (Jahe Emprit Atau Jahe Sunti)

Pada umumnya, jahe sudah dikenal oleh masyarakat luas. Jahe dimanfaatkan untuk dibuat minuman penghangat tubuh, selain itu, jahe juga dimanfaatkan sebagai rempah dapur. Selain itu, secar umum jahe memiliki kegunaan lain yakni untuk mengatasi beberapa penyakit diantaranya rematik, asma, stroke, sakit gigi, diabetes, sakit otot, tenggorokan, kram, hipertensi, mual, demam dan infeksi. Banyak orang yang mengganggap semua jahe itu sama. Padahal sebenarnya, jahe dikelompokkan menjadi tiga jenis, yakni jahe putih besar atau jahe badak, jahe putih kecil atau jahe emprit dan jahe merah atau jahe merah. Dari setiap jenis jahe tersebut, masing masing memiliki karakteristik dan manfaat yang berbeda. Salah satu jenis jahe yang dianggap memiliki bentuk yang unik adalah jahe emprit.

(Mengenal Ciri-Ciri Jahe Emprit)
Jahe emprit atau Zingiber Majus Rumph, dikenal juga dengan nama jahe Sunti. Ciri utama jahe emprit terletak pada bentuk rimpangnya yang kecil, rata cenderung pipih dan tidak mengembung. Jahe jenis ini bisa ditemukan dalam warna putih, kuning dan dalam kondisi tertentu berwarna merah. Serat jahe emprit bertekstur lembut dengan aroma yang tidak tajam. Tetapi jahe emprit dilengkapai rasa yang jauh lebih pedas ketimbang jahe gajah atau badak. Kandungan gingerol, zingeron, dan shogaol yang dimiliki jahe emprit memang lebih tinggi ketimbang jahe gajah. Hal ini yang menyebabkan rasa pedasnya lebih dominan.
Secara umum,tanaman jahe emprit sama saja dengan jenis jahe lainnya. Sistem budidayanya juga sama, dikembangkan melalui metode vegetatif yakni stek pada tunas baru yang tumbuh di bagian rimpangnya.



(Jahe Sebagai Penghangat Badan)
Berdasarkan pada sifatnya, jahe emprit sering dijadikan bahan obat herbal dan bumbu makanan. Rasa pedasnya memang memberi sensasi hangat yang jauh lebih baik. Sayangnya, aromanya yang tidak sekuat jahe gajah membuat jahe emprit jarang digunakan untuk produk seperti permen jahe, jelly jahe, sirup jahe dan lain-lain. Jahe emprit (bersama jahe merah) paling populer digunakan sebagai bahan untuk membuat produk ekstrak.Proses pembuatannyapun cukup sederhana yaitu :
  1. Bersihkan jahe dari sisa-sisa tanah yang menempel dan kulit jahe yang hitam dan kotor di bersihkan dengan menggunakan pisau hingga cukup bersih, saran saya jangan di kupas kulitnya karena akan mengurangi rendemennya nanti.
  2. Parut jahe yang sudah dibersihkan di atas dengan pemarut, kalau punya mesin penggiling pemarut silah gunakan itu saja karena lebih cepat dan lebih aman.
  3. Hasil parutan diperas dan disaring dengan menggunakan saringan kain yang halus agar ampas tidak terikut dalam perasan, kan yang akan di ambil adalah sarinya ingat prosedur ini tanpa penambahan air jadi murni sari jahe saja.
  4. Tunggu 3-5 menit agar pati dan sari yang sudah di peras terpisah. Pati itu lapisan larutan hasil perasan yang paling bawah berwarna putih kental sedangkan sarinya ada di atasnya pati.
  5. Tuangkan sari jahe ke atas wajan dan tambahkan juga gula 1 kg kemudian nyalakan kompor. Nyala apai sedang saja jangan besar-besar, aduk-aduk adonan terus menerus hingga mendidih, ketika telah mendidih terus di aduk agar gula tidak mengkaramel atau berwarna coklat agar hasil bubuk jahe instan hasilnya bagus.
  6. Proses pengadukan terus dilakukan sampai adonan menjadi bubuk, pemasakan ini tujuannya untuk menguapkan air dan sari buah mengikat gula sehingga bubuk yang di hasilkan bersatu dengan jahe instan.




Komentar